MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN – UMKM binaan dan mitra Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan membukukan potensi transaksi lebih dari Rp9,1 miliar melalui keikutsertaan dalam Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026 dan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Capaian tersebut berasal dari penjajakan bisnis dengan pembeli domestik dan internasional melalui 14 letter of intent (LOI) senilai Rp9,10 miliar serta tiga purchase order (PO) senilai Rp2,75 juta. Selain itu, UMKM juga mencatatkan penjualan langsung selama kedua pameran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026.

“Keikutsertaan UMKM dalam pameran berskala nasional dan internasional merupakan bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk daerah,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Robi berujar pihaknya tidak hanya memfasilitasi promosi produk, tetapi juga mempertemukan UMKM dengan calon pembeli dan membuka peluang kerja sama bisnis. Menurut Robi, pengembangan UMKM perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendampingan, peningkatan kapasitas, promosi, serta penguatan jejaring bisnis. Dengan langkah tersebut, UMKM diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian daerah.
“Harapannya, peluang bisnis yang diperoleh selama pameran tidak berhenti pada penjajakan, tetapi dapat berlanjut menjadi transaksi nyata dan kerja sama jangka panjang,” kata Robi optimis.
.ISEF dan TEI Buka Peluang EksporDalam ajang ISEF 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), BI Balikpapan memfasilitasi empat UMKM binaan dan mitra. Mereka terdiri atas dua UMKM sektor modest fashion serta dua UMKM makanan dan minuman olahan.Sementara itu, pada TEI 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, BI Balikpapan mendorong partisipasi tujuh UMKM dari sektor makanan dan minuman olahan serta kriya.
Dari kedua pameran tersebut, penjualan langsung UMKM mencapai Rp80,54 juta selama ISEF 2026 dan Rp13,50 juta selama TEI 2026. Penjualan di TEI terutama berasal dari pembelian sampel produk oleh pembeli internasional.
Khusus di ISEF 2026, empat UMKM yang membuka stan pameran adalah Rumah Ampiek, HHarum, Kampoeng Timoer, dan Bungas Wedang Dayak.Rumah Ampiek mencatatkan penjualan tertinggi sebesar Rp43,11 juta, disusul HHarum Rp22,99 juta, Kampoeng Timoer Rp9,67 juta, dan Bungas Wedang Dayak Rp4,77 juta.
Dua UMKM fesyen binaan BI Balikpapan, Harum dan Rumah Ampiek, juga mendapat kesempatan menampilkan koleksi mereka dalam rangkaian IN2MOTIONFEST dan Jakarta Muslim Fashion Week. Harum menghadirkan koleksi modest fashion yang memadukan batik, kain shibori, tenun khas daerah, dan sulaman yang terinspirasi dari kekayaan budaya Kalimantan Timur. Sementara itu, Rumah Ampiek mengembangkan produk batik dengan desain modern tanpa meninggalkan nilai tradisi.
Selain mempromosikan produk fesyen, BI Balikpapan memperluas pemasaran produk UMKM melalui Halal Mart dengan mengikutsertakan enam UMKM, yakni Trubus Iman, Bontings, CB Food, Wedang Dayak, Salakilo, dan Delkoff.BI Balikpapan juga mendukung promosi produk PT Deli Koffie Indonesia melalui program Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor (Jawara Ekspor) untuk memperluas eksposur produk kepada calon pembeli internasional. Bungas Wedang Dayak Kantongi Peluang BisnisPeluang ekspor turut diperoleh Bungas Wedang Dayak melalui kegiatan business matching di ISEF 2026.
UMKM tersebut mendapatkan dua LOI dari pembeli di Belanda dan Australia dengan total nilai Rp739,44 juta. Selain itu, terdapat satu PO dari Australia senilai Rp1,2 juta.LOI pertama berasal dari Ben Helen di Belanda dengan nilai Rp699,84 juta. Sementara itu, LOI kedua diperoleh dari Abu Husein Mixed Business di Australia senilai Rp40 juta.Bungas Wedang Dayak juga memperoleh PO dari Citadels Logistics di Australia senilai Rp1,2 juta.
Dengan demikian, total potensi transaksi melalui business matching tersebut mencapai sekitar Rp741 juta.UMKM fesyen HHarum turut menjajaki peluang kerja sama dengan calon pembeli dari Tunisia dan Filipina.
“Pertemuan langsung dengan calon pembeli menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memahami kebutuhan pasar sekaligus mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai,” kata Robi.
TEI Hasilkan LOI Rp8,36 Miliar
Peluang bisnis yang lebih luas juga diperoleh tujuh UMKM binaan dan mitra BI Balikpapan dalam TEI 2026. Ketujuh UMKM tersebut adalah Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM), Bonles Food, Amplang Ikan Asik, Mantau Fya, Salakilo, Gunaco, dan Fixty.
Pameran perdagangan internasional tersebut dihadiri pembeli dari lebih dari 150 negara, dengan jumlah peserta buyer mencapai sekitar 9.600 orang. Selama kegiatan, UMKM binaan BI Balikpapan berkesempatan memperkenalkan produk, berdialog dengan calon pembeli, serta mengikuti penjajakan bisnis untuk membuka akses ke pasar ekspor.
Hasilnya, UMKM peserta TEI menghimpun 12 LOI dari delapan pembeli internasional maupun pelaku perdagangan Indonesia, dengan perkiraan nilai transaksi mencapai Rp8,36 miliar atau setara US$474.931.Libya menjadi negara tujuan dengan nilai LOI terbesar, yakni sekitar Rp6,68 miliar atau 79,9 persen dari total nilai LOI yang dihimpun di TEI 2026.Peluang transaksi lainnya berasal dari Vietnam senilai Rp876,13 juta, Tiongkok Rp394,96 juta, Australia Rp256,51 juta, dan Korea Selatan Rp154,88 juta.
Berdasarkan nilai LOI, Bonles Food mencatatkan potensi transaksi terbesar, yakni Rp2,14 miliar. Sementara itu, KIM memperoleh jumlah LOI terbanyak, yaitu empat LOI dengan total nilai Rp805,49 juta. Adapun Mantau Fya, Salakilo, Amplang Ikan Asik, Gunaco, dan Fixty juga berhasil menarik minat calon pembeli dengan nilai transaksi berdasarkan LOI yang secara bersama-sama disebut mencapai Rp4,08 miliar.
“Keterlibatan dalam pameran internasional juga memberikan kesempatan bagi UMKM untuk mempelajari karakteristik pasar, tren permintaan, dan standar produk yang dibutuhkan calon pembeli,” kata Robi.
“UMKM perlu memahami kebutuhan pasar yang dituju, termasuk kualitas produk, kemasan, legalitas, dan kesinambungan produksi. Hal-hal tersebut penting agar peluang yang diperoleh dapat ditindaklanjuti menjadi transaksi,” ujarnya lagi.
BI Kawal Realisasi Transaksi
Meski telah menghimpun LOI dan PO, BI Balikpapan masih perlu mendorong tindak lanjut agar potensi transaksi tersebut dapat direalisasikan. Sejumlah langkah disiapkan, mulai dari pemantauan perkembangan kerja sama, komunikasi lanjutan dengan pembeli, pengiriman sampel produk, hingga pendampingan penyusunan penawaran harga. UMKM juga akan didorong untuk melengkapi persyaratan administrasi dan legalitas usaha, memenuhi kebutuhan sertifikasi ekspor, memperbaiki kualitas kemasan dan pelabelan, serta memastikan kapasitas produksi mampu memenuhi permintaan pembeli.
“Setelah mendapatkan komitmen dari calon pembeli, langkah berikutnya adalah memastikan kesiapan UMKM untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kami akan terus mendorong komunikasi dan pendampingan agar peluang kerja sama tersebut bisa ditindaklanjuti,” ujar Robi.
Ia menambahkan, upaya memperluas pasar UMKM akan terus dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah daerah, kementerian, lembaga, dan berbagai pihak terkait.
“Kami berharap UMKM daerah semakin mampu bersaing, memperluas pasar, dan meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian. Dengan akses pasar yang lebih luas, peluang pertumbuhan usaha dan penciptaan lapangan kerja juga semakin terbuka,” ujarnya optimis. (Imy)








