Rabu, 7 Oktober 2026

Inflasi Balikpapan Naik, Tekanan Harga Pangan Menguat

Redaksi IDC | Saturday, 03 October 2026 | 12:11
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan-- Robi Ariadi
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan-- Robi Ariadi

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Inflasi Kota Balikpapan tercatat 0,08 persen secara bulanan pada September 2026. Kenaikan harga terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami tekanan akibat berkurangnya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan-- Robi Ariadi
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan– Robi Ariadi

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan inflasi Balikpapan pada September 2026 terutama dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 3,93 persen, sedangkan Penajam Paser Utara (PPU) tercatat lebih tinggi sebesar 4,18 persen. Angka tersebut berada di atas inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen.

Robi Ariadi menjelaskan, kenaikan harga pangan dipengaruhi berkurangnya pasokan dari sentra produksi di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan akibat kondisi El Niño yang berdampak terhadap produksi pertanian.

Di Balikpapan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi inflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan. Komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, kangkung, tomat, tas sekolah, dan jagung manis.

Kenaikan harga cabai rawit, tomat, dan jagung manis dipengaruhi penurunan pasokan dari daerah produksi, sementara permintaan masyarakat masih cukup kuat. Harga kangkung juga meningkat akibat berkurangnya pasokan petani lokal di sekitar Balikpapan karena kondisi cuaca kering.

Sementara itu, kenaikan harga tas sekolah dipengaruhi penyesuaian harga jual oleh produsen akibat meningkatnya biaya produksi, di tengah permintaan yang masih berlangsung pada periode tahun ajaran baru.

Tekanan inflasi di Kabupaten Penajam Paser Utara lebih tinggi dibandingkan Balikpapan. Pada September 2026, inflasi bulanan PPU mencapai 0,56 persen.

Robi Ariadi mengatakan tekanan inflasi PPU juga didominasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 0,48 persen.

Sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya cabai rawit, tomat, jagung manis, kacang panjang, dan jeruk. Kondisi tersebut dipengaruhi penurunan pasokan akibat cuaca kering serta meningkatnya biaya logistik pada sejumlah komoditas.

Secara tahunan, inflasi PPU mencapai 4,18 persen. Sementara itu, inflasi Januari hingga September 2026 tercatat 4,11 persen sehingga berada di atas batas atas sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Deflasi Tertahan Sejumlah Komoditas

Di tengah kenaikan harga pangan, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga di Balikpapan. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,06 persen secara bulanan.

Komoditas yang menjadi penyumbang deflasi antara lain ikan layang, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, sawi hijau, dan udang basah.

Penurunan harga ikan layang dipengaruhi membaiknya hasil tangkapan di perairan PPU dengan kondisi cuaca dan gelombang yang mendukung. Sementara tarif angkutan udara ikut turun setelah adanya penurunan harga avtur di Bandara Sepinggan.

Harga bahan bakar rumah tangga juga menurun seiring semakin seringnya pelaksanaan operasi pasar hingga tingkat kelurahan, ketersediaan stok yang memadai, serta distribusi yang berjalan lancar.

Robi Ariadi mengatakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU terus memperkuat langkah pengendalian harga melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Gerakan Pangan Indonesia Peduli Stabilitas (GPIPS), pasar murah, dan operasi pasar.

Sepanjang Januari hingga September 2026, TPID Balikpapan telah melaksanakan 104 kegiatan Gerakan Pangan Murah, termasuk 10 kegiatan pada September. Sementara TPID PPU melaksanakan 32 kegiatan GPM, pasar murah, dan operasi pasar, termasuk lima kegiatan pada September.

Selain menjaga ketersediaan dan harga pangan, TPID juga memperkuat kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi untuk mengantisipasi gangguan pasokan akibat dampak El Niño yang semakin kuat.

Risiko Inflasi Masih Membayangi

Ke depan, tekanan inflasi masih perlu diwaspadai. Fenomena El Niño, kekeringan, serta risiko kebakaran hutan dan lahan dapat memengaruhi produksi dan pasokan pangan.

Ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar Kalimantan Timur juga menjadi tantangan karena produktivitas pangan lokal masih terbatas. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas harga pangan apabila terjadi gangguan produksi maupun distribusi.

Robi Ariadi mengatakan sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan TPID akan terus diperkuat untuk menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta kestabilan harga.

Dalam pengendalian inflasi, perhatian juga diarahkan pada ketersediaan dan distribusi energi, termasuk BBM dan LPG. Selain itu, perluasan SPPG pada semester II 2026 diperkirakan dapat meningkatkan kebutuhan pangan sehingga perlu diantisipasi melalui penguatan stok dan pasokan.

Upaya pengendalian inflasi juga membawa hasil positif bagi Balikpapan. Pada TPID Award 2026, TPID Balikpapan meraih peringkat kedua di wilayah Kalimantan dalam kategori kabupaten/kota dengan kinerja terbaik.

Robi Ariadi menyampaikan bahwa Bank Indonesia bersama pemerintah daerah akan terus menjaga sinergi melalui TPID dan menjalankan GPIPS secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen plus minus 1 persen serta mendukung pelaksanaan roadmap pengendalian inflasi 2025–2027. (Imy)