PHM Tambah Produksi 2.000 BPH dari Sumur HPPO Handil

Redaksi IDC | Thursday, 29 January 2026 | 14:04
PHM

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mencatatkan tambahan produksi minyak sebesar 2.000 barel per hari (bph) dari dua sumur High Pour Point Oil (HPPO) di Lapangan Handil, Kalimantan Timur, pada awal tahun 2026. Capaian ini melampaui proyeksi awal dalam Work Program & Budget (WP&B) 2026 yang ditargetkan sekitar 400 bph.

“Dengan tambahan tersebut, total kontribusi produksi dari sumur HPPO di wilayah operasi PHM kini mencapai 3.000 bph, term”asuk satu sumur HPPO di Lapangan Tambora yang telah berproduksi sejak 2024,” ujar Senior Manager Production PHM Robert Roy Antoni.

Robert mengatakan optimalisasi sumur HPPO menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menghadapi tantangan lapangan migas yang semakin kompleks. Ia berkata Blok Mahakam merupakan lapangan mature dengan karakteristik sumur yang semakin menantang. Namun hal itu tidak menyurutkan komitmen PHM untuk terus mencari solusi agar sumur-sumur yang memiliki kompleksitas tinggi dan sebelumnya belum tersentuh dapat diproduksikan secara optimal.

Lebih jauh Robert mengatakan, dua sumur HPPO di Lapangan Handil memiliki karakteristik minyak dengan titik tuang lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa, yakni sekitar 25 derajat Celsius. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan minyak mengental bahkan membeku jika tidak ditangani secara khusus.

“Untuk mengatasi tantangan tersebut, PHM menerapkan chemical treatment Pour Point Depressant atau PPD yang mampu menurunkan titik tuang minyak hingga 21 derajat Celsius. Dengan teknologi ini, aliran minyak dapat terjaga dan produksi berjalan stabil,” ujar Robert.

Sementara itu, General Manager PHM Setyo Sapto Edi, mengatakan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari pengalaman panjang PHM dalam mengelola lapangan migas mature.

“Keberhasilan memproduksikan sumur-sumur dengan tantangan operasional dan teknikal yang semakin kompleks sudah menjadi bagian dari kompetensi PHM,” kata Setyo.

Setyo mengatakan, PHM telah berhasil mengoperasikan 17 sumur minyak beremulsi dengan memanfaatkan fasilitas eksisting di lapangan gas Tunu, Tambora, Sisi Nubi, Peciko, dan South Mahakam. Sumur-sumur tersebut secara kumulatif mampu memberikan tambahan produksi hingga 5.200 bph berdasarkan pengukuran di kepala sumur. Ia pun menekankan bahwa keberhasilan pengembangan sumur HPPO dan sumur beremulsi tersebut menegaskan komitmen PHM untuk terus berinovasi dalam menghadapi tantangan lapangan mature.

“Dengan tambahan produksi dari sumur HPPO dan sumur beremulsi, PHM memasuki tahun 2026 dengan rata-rata produksi minyak sekitar 25 ribu bph, atau sekitar 20 persen lebih tinggi dibandingkan target WP&B yang ditetapkan Pemerintah,” ujarnya mantap.

Setyo juga menegaskan peran PHM dalam mendukung ketahanan energi nasional dan agenda transisi energi Pertamina. Pihaknya meyakini bahwa keberlanjutan operasi dan bisnis merupakan kunci untuk mendukung kebijakan transisi energi Pertamina, sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian target produksi nasional sebesar 1 juta barel minyak dan 12 miliar standar kaki kubik gas pada tahun 2029 atau bahkan lebih cepat.

“Investasi di sektor hulu migas baik eksplorasi maupun eksploitasi, masih sangat dibutuhkan. Ini menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan produksi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional, sejalan dengan Asta Cita Pemerintah terkait swasembada energi,” kata Setyo. (Imy)