MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) kembali mencatatkan kemajuan dalam pengembangan Lapangan Lepas Pantai Sisi Nubi, Kalimantan Timur. Perusahaan berhasil melakukan onstream Platform WPN-6 pada Proyek Sisi Nubi Area of Interest (SNB AOI) 1-3-5, menjadikannya platform keempat yang resmi berproduksi dari total enam platform yang dikembangkan dalam proyek tersebut.

Onstream Platform WPN-6 diawali dengan beroperasinya sumur NB-601 pada 5 Juni 2026 yang menghasilkan gas sebesar 6 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Tiga hari kemudian, sumur NB-603 mulai berproduksi dengan capaian 8 MMSCFD.
Seiring proses optimalisasi dan stabilisasi sumur serta fasilitas produksi, kedua sumur tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan produksi hingga mencapai 20 MMSCFD.
Keberhasilan ini melanjutkan capaian tiga platform sebelumnya yang telah lebih dahulu onstream, yakni WPS-4 pada 4 Desember 2025, WPS-5 pada 23 Februari 2026, dan WPN-7 pada 23 Maret 2026.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi mengatakan keberhasilan tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya perusahaan menjaga keberlanjutan produksi migas dari Wilayah Kerja Mahakam.
“Pencapaian pada proyek ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan produksi migas dari wilayah Kalimantan, khususnya dari WK Mahakam, guna mendukung Asta Cita pemerintah terkait swasembada energi,” kata Setyo.
Menurutnya, proyek SNB AOI 1-3-5 merupakan bagian dari langkah strategis perusahaan dalam mempertahankan tingkat produksi migas di tengah tantangan penurunan alami produksi pada lapangan-lapangan yang telah matang.
“Keberhasilan onstream ini sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi perusahaan energi nasional terdepan yang mendukung keberlanjutan produksi migas untuk ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia,” ujarnya.
Setyo menegaskan PHM bersama induk usahanya, PT Pertamina Hulu Indonesia, terus mendorong pelaksanaan investasi hulu migas yang selamat, andal, patuh terhadap regulasi, serta memberikan nilai tambah bagi negara.
Ia menilai penerapan teknologi dan inovasi menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja produksi migas di Wilayah Kerja Mahakam.
“Kami meyakini bahwa penerapan inovasi dan teknologi merupakan langkah strategis perusahaan untuk terus berusaha mempertahankan tingkat produksi, sekaligus menahan laju penurunan produksi alamiah lapangan-lapangan migas yang sudah mature,” jelasnya.
Dari sisi operasional, pencapaian onstream Platform WPN-6 didukung oleh keberhasilan berbagai tahapan pengujian dan verifikasi fasilitas produksi. Beberapa di antaranya meliputi Emergency Shutdown (ESD) Test untuk memastikan sistem keselamatan berfungsi optimal, kegiatan clean up sumur, hingga leak test menggunakan nitrogen guna memastikan fasilitas bebas kebocoran sebelum produksi dimulai.
Setyo menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan proyek.
“Kolaborasi lintas tim serta dukungan seluruh pemangku kepentingan internal dan eksternal perusahaan menjadi kunci keberhasilan dalam pencapaian proyek ini,” pungkasnya.
Sebagai operator Wilayah Kerja Mahakam, PHM terus menjalankan berbagai program pengembangan lapangan dan penerapan teknologi untuk menjaga produksi migas nasional. Capaian onstream Platform WPN-6 diharapkan semakin memperkuat kontribusi Kalimantan Timur sebagai salah satu daerah penopang pasokan energi nasional. (Imy)









