BI Balikpapan Cetak Peternak Ayam Petelur dari Pesantren

Redaksi IDC | Thursday, 06 August 2026 | 15:45
ayam pesantren juga

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan terus mendorong lahirnya peternak ayam petelur dari kalangan pondok pesantren sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung pengendalian inflasi di Kalimantan Timur.

Melalui kolaborasi bersama Baznas Provinsi Kalimantan Timur dan pemerintah daerah, KPwBI Balikpapan mengembangkan usaha budidaya ayam petelur di sejumlah pondok pesantren dan kelompok usaha terpilih.

“Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi telur lokal yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi pesantren,” ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.

Kata Robi menjelaskan, KPwBI Balikpapan bersama Baznas Kaltim serta Pemerintah Kota Balikpapan, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Pemerintah Kabupaten Paser menggelar Workshop Pengelolaan Usaha Budidaya Ayam Petelur 2026 pada 3–8 Agustus 2026.

Workshop menghadirkan akademisi, praktisi peternakan, hingga pelaku usaha untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola peternakan ayam petelur secara profesional dan berkelanjutan.

“Bank Indonesia tidak hanya bertugas menjaga stabilitas nilai rupiah, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi melalui penguatan sektor riil, terutama peningkatan produksi komoditas pangan strategis,” kata Robi.

Kata Robi menjelaskan telur ayam menjadi salah satu komoditas yang memengaruhi inflasi di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser.

Workshop tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya peternak-peternak ayam petelur baru dari kalangan pondok pesantren dan masyarakat. Dengan meningkatnya produksi lokal, ujarnya, kebutuhan telur di daerah dapat dipenuhi tanpa terlalu bergantung pada pasokan dari luar.

“Melalui workshop ini, kami berharap peserta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur di daerah masing-masing,” ujar Robi antusias.

Sementara itu Wakil Ketua III Baznas Provinsi Kalimantan Timur Badrus Syamsi, mengapresiasi sinergi antara Baznas Kaltim dan KPwBI Balikpapan dalam memberdayakan pondok pesantren melalui pengembangan usaha produktif.

Ia berujar bahwa penguatan sektor pangan menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

“Kolaborasi ini telah memberikan dampak nyata terhadap penguatan ekonomi pondok pesantren. Kami berharap semakin banyak pesantren yang mampu mandiri melalui pengembangan usaha ayam petelur dan program pemberdayaan lainnya,” kata Badrus.

Sebagai informasi, workshop yang berlangsung selama enam hari tersebut merupakan hasil kolaborasi KPwBI Balikpapan, Baznas Kaltim, pemerintah daerah melalui OPD teknis, akademisi, praktisi peternakan, hingga Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang menjadi lokasi praktik lapangan.

Pesantren tersebut dipilih karena telah berhasil mengembangkan usaha ayam petelur secara produktif. Hasil produksinya kini memasok kebutuhan telur ke sejumlah restoran dan kafe di Balikpapan. Pesantren itu juga merupakan mitra binaan KPwBI Balikpapan dan Baznas Kaltim yang telah menerima bantuan sarana dan prasarana budidaya ayam petelur pada 2025.

Belajar Langsung di Kandang

Hari pertama workshop digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Peserta memperoleh materi mengenai dasar-dasar bisnis ayam petelur, prospek industri, rantai pasok, dan peluang pasar dari praktisi PT Ekosistem Ternak Borneo.

Peserta juga mempelajari teknik budidaya ayam petelur, mulai dari pemilihan bibit, siklus produksi, jenis strain ayam, hingga manajemen kandang. Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Balikpapan turut memberikan pembekalan mengenai faktor-faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan ayam petelur.

Selanjutnya, pada 4–8 Agustus 2026, peserta mengikuti program mondok di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan metode blended learning yang menggabungkan teori dan praktik.

Selama lima hari, peserta mempelajari sistem pemeliharaan ayam petelur, vaksinasi, formulasi pakan, pengendalian penyakit, penyusunan business plan, hingga strategi pemasaran. Mereka juga dijadwalkan mengunjungi salah satu peternakan ayam petelur di Balikpapan untuk mempelajari praktik terbaik dalam mengelola usaha.

Seluruh rangkaian workshop ditutup dengan penyusunan dan presentasi business plan sebagai implementasi materi yang telah dipelajari.

Melalui program ini, KPwBI Balikpapan berharap lahir peternak ayam petelur yang profesional, mandiri, dan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Dengan meningkatnya jumlah peternak dan produksi telur lokal, program ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, mengurangi ketergantungan pasokan dari luar Kalimantan Timur, sekaligus mendukung pengendalian inflasi di daerah. (Imy)