Pasar Properti di Balikpapan Tumbuh Melambat

Redaksi IDC | Friday, 29 August 2025 | 16:32
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Pasar properti residensial di Kota Balikpapan menunjukkan tanda perlambatan. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mencatat pertumbuhan harga rumah pada triwulan II-2025 tidak sekuat triwulan sebelumnya. Padahal beberapa tahun terakhir, pasar properti residdensial menunjukan pertumbuhan yang menggembirakan.

Robi Ariadi– Kepala kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mengatakan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Balikpapan hanya tumbuh 0,96 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan I-2025 yang mencapai 1,31 persen (yoy). Perlambatan terutama terlihat pada rumah tipe menengah dan kecil yang masing-masing hanya naik 0,42 persen dan 0,38 persen, jauh di bawah pertumbuhan triwulan sebelumnya.

“Perlambatan ini terjadi seiring dengan penyesuaian permintaan masyarakat yang mulai kembali ke pola normal, setelah sebelumnya sempat naik cukup signifikan karena faktor pembangunan IKN dan aktivitas konstruksi,” ujarnya.

Robi berujar, pihaknya juga mencatat penjualan properti residensial di Balikpapan turun 11 persen pada periode yang sama. Penurunan ini sejalan dengan melambatnya pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang hanya tumbuh 7,14 persen (yoy), lebih rendah dibanding 9,01 persen (yoy) pada triwulan I-2025.

Sementara itu disisi lain, ujar Robi, tren rumah tipe besar justru mengalami kenaikan harga lebih tinggi, yakni 2,07 persen (yoy). Namun, jumlah unit yang terjual turun 25 persen akibat melemahnya permintaan di segmen tersebut.

“Pangsa penjualan tertinggi pada triwulan II-2025 berasal dari rumah tipe menengah, didorong oleh kehadiran beberapa klaster baru yang ditawarkan pengembang,” kata Robi.

Kata Robi menjelaskan dari sisi pembiayaan, mayoritas pembelian rumah di Balikpapan masih ditopang skema KPR dengan porsi 89 persen, meningkat dari 84 persen pada triwulan sebelumnya. Sisanya, 8 persen melalui pembayaran bertahap, dan 3 persen dengan pembayaran tunai.

“Bank Indonesia terus memperkuat implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan sektor prioritas, termasuk real estate dan perumahan,” ujarnya antusias.

“Kebijakan ini penting agar kredit perbankan tetap tumbuh, terutama pada sektor yang berkontribusi besar terhadap ekonomi daerah dan penciptaan lapangan kerja,” kata Robi menambahkan. (Imy)