MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Kinerja perbankan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan yang meliputi Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser, pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan intermediasi yang kuat dan kualitas kredit yang terjaga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan penyaluran kredit pada triwulan II 2026 mencapai Rp41,51 triliun, atau tumbuh 17,66 persen (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut masih tergolong tinggi meski sedikit melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang tumbuh 19,5 persen (yoy) dengan nilai kredit Rp40,71 triliun.
“Pertumbuhan kredit yang tetap tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih dipengaruhi dinamika geopolitik. Peningkatan penyaluran kredit juga mencerminkan optimisme pelaku usaha dan sektor perbankan terhadap prospek perekonomian daerah ke depan,” ujar Robi pada Selasa (22/ 07/ 2026)
Dari sisi kualitas, kata Robi, kredit perbankan tetap berada pada level yang sehat. Rasio Non-Performing Loan (NPL) pada triwulan II 2026 tercatat 2,57 persen, sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 2,47 persen, namun masih jauh di bawah ambang batas aman sebesar 5 persen.
Kata Robi menjelaskan, berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit investasi yang meningkat signifikan sebesar 44,34 persen (yoy). Kenaikan ini sejalan dengan berlanjutnya investasi pada proyek konstruksi dan hilirisasi industri, serta meningkatnya keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.
“Ada penambahan alokasi investasi yang mana pangsa kredit investasi mencapai 39,35 persen dari total kredit,” kata Robi menjelaskan.
Lebih lanjut Robi menjelaskan, kredit konsumsi tumbuh 5,95 persen (yoy) seiring tetap terjaganya daya beli masyarakat. Adapun kredit modal kerja meningkat 3,78 persen (yoy), didukung kebutuhan permodalan pelaku usaha yang masih kuat.
Secara keseluruhan, pembiayaan perbankan di wilayah kerja KPwBI Balikpapan masih didominasi kredit untuk kegiatan produktif melalui kredit investasi dan modal kerja dengan pangsa 64,03 persen, sedangkan kredit konsumsi berkontribusi 35,97 persen, yang tersalurkan melalui kredit multiguna, kredit pemilikan rumah, kendaraan, dan berbagai jenis kredit konsumsi lainnya.
“Berdasarkan lapangan usaha, penyaluran kredit masih terkonsentrasi pada sektor Konstruksi, Perdagangan, dan Pertanian, dengan pangsa masing-masing 18,83 persen, 13,61 persen, dan 10,84 persen,” ujarnya menyebutkan.
Komposisi tersebut mencerminkan karakteristik perekonomian wilayah kerja KPwBI Balikpapan. Kota Balikpapan tetap menjadi pusat perdagangan dan jasa, Kabupaten Penajam Paser Utara didominasi aktivitas konstruksi sebagai lokasi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sementara Kabupaten Paser ditopang sektor pertanian.
Kredit pada sektor konstruksi tumbuh sangat tinggi, yakni 176,77 persen (yoy), didorong berlanjutnya pembangunan proyek hilirisasi industri dan pembangunan Tahap II IKN. Selain itu, kredit sektor pertambangan meningkat 50,09 persen (yoy), sedangkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,33 persen (yoy), sejalan dengan tingginya aktivitas pertambangan dan distribusi logistik.
Pada segmen UMKM, penyaluran kredit mencapai Rp12,79 triliun, sedikit meningkat dibandingkan triwulan I 2026 sebesar Rp12,75 triliun. Namun secara tahunan, kredit UMKM mengalami kontraksi 0,23 persen (yoy), berbalik dari pertumbuhan 1,1 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.
Menurut Robi, berbagai program pemberdayaan UMKM yang dilakukan pemerintah daerah bersama berbagai institusi telah membantu menjaga penyaluran kredit kepada pelaku UMKM. Pangsa kredit UMKM terhadap total kredit juga meningkat tipis menjadi 30,80 persen dari sebelumnya 30,73 persen.
Meski demikian, perlambatan pertumbuhan kredit UMKM juga dipengaruhi langkah perbankan yang lebih selektif dalam menjaga kualitas pembiayaan. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL UMKM yang meningkat menjadi 4,2 persen dari 3,9 persen pada triwulan sebelumnya, namun masih berada di bawah ambang batas 5 persen.
Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp49,52 triliun, atau tumbuh 4,15 persen (yoy). Capaian tersebut lebih baik dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar Rp48,68 triliun dan mengalami kontraksi 0,3 persen (yoy).
Peningkatan DPK menunjukkan likuiditas perbankan tetap terjaga di tengah meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat. Struktur DPK masih didominasi tabungan sebesar 55,65 persen, diikuti giro 28,77 persen, dan deposito 15,58 persen, dengan komposisi yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya.
Sejalan dengan perkembangan kredit dan DPK tersebut, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat menjadi 83,82 persen pada triwulan II 2026 dari 83,62 persen pada triwulan I 2026. Kondisi ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan optimal, di mana penghimpunan dana dan penyaluran kredit sama-sama tumbuh positif.
“Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan industri perbankan untuk mendorong intermediasi yang optimal dan berkualitas, sehingga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan,” kata Robi antusias. (Imy)









