MEDIAONLINEIDC.COM; MOJOKERTO– Ketergantungan Kalimantan Timur terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi perhatian serius Bank Indonesia. Kondisi itu membuat daerah rentan terhadap gejolak harga hingga gangguan distribusi pangan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Umran Usman, mengatakan hampir 80 persen bahan makanan di Balikpapan dan Kalimantan Timur masih dipasok dari Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan.

“Hampir 80 persen makanan yang kami makan di Balikpapan dan Kalimantan Timur, bahan-bahannya semua diimport dari Jawa, khususnya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan,” kata Umran saat berkunjung ke kawasan pertanian organik Brenjonk di Mojokerto.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Kalimantan Timur sangat berisiko mengalami fluktuasi harga pangan. Selain bergantung pada pasokan luar daerah, distribusi juga dipengaruhi faktor transportasi dan kepastian suplai.
“Sehingga kami ini sebenarnya sangat risiko terjadi fluktuasi harga karena makanannya sangat mengalir dari luar, termasuk dari transportasinya, termasuk juga kepastian pasokannya,” ujarnya.
Ia mengatakan ancaman itu semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan pangan akibat operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah tahun ini.
Apalagi kita tahu bersama di tahun ini akan banyak operasionalisasi MBG, termasuk di Jawa, yang menjadi saingan kita untuk memasok makanan kita ke Kalimantan,” katanya.
Selain itu, potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino juga menjadi perhatian. Berdasarkan analisa BMKG, wilayah Jawa diprediksi menjadi salah satu daerah terdampak cukup parah.
“Kalau dari analisa dan perkiraan BMKG, El Nino paling parah terdampak itu di daerah Jawa. Nah ini menjadi risiko kami juga. Kami minta makanan dari Jawa, tapi ternyata di sana juga ada risiko produksi belum tentu bagus,” ujanya.
Karena itu, Bank Indonesia Balikpapan datang untuk mempelajari model pertanian organik yang diterapkan komunitas Brenjonk di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Umran menilai sistem pertanian organik Brenjonk mampu menciptakan nilai tambah produk sekaligus memiliki pasar yang jelas.
“Nah hal-hal ini kami datang ke sini untuk belajar sebenarnya melihat bagaimana upaya menerapkan budidaya organik yang sudah 18 tahun secara konsisten dan persisten,” katanya.
“Nilai jual produknya pasti lebih bagus, budidaya organik dan sudah ada pasarnya yang jelas. Komunitasnya juga banyak sekali,” ujarnya lagi.
Sistem Tertutup Hadapi Krisis Iklim
Direktur sekaligus Inisiator Brenjonk Slamet, mengatakan kempok Tani Brenjonk memiliki 109 petani aktif dengan total sekitar 900 anggota. Adapun luasan lahannya mencapai 146 hektare dan seluruhnya telah bersertifikat organik.
Slamet mengatakan sistem pertanian organik yang mereka jalankan menjadi salah satu model pengendali inflasi sekaligus mitigasi perubahan iklim.
“Brenjonk masuk salah satu pengendali inflasi. Tahun 2024 kami dapat penghargaan Kalpataru. Ini adalah upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim,” katanya.
Ia menjelaskan konsep pertanian organik yang diterapkan menggunakan sistem tertutup sehingga limbah pertanian kembali dimanfaatkan menjadi pupuk alami.hanya limbah tanaman, Tidak hanya limbah pertanian, namun juga limbah peternakan dimanfaatkan kembali.
“Sistem pertanian organik adalah tertutup. Misalnya panen padi, jeraminya diolah menjadi kompos. Karena kalau dibakar akan menghasilkan gas CO, efek rumah kaca,” jelasnya.
“Kita ada kotoran sapi dan kambing. Itu jadi limbah ternak kemudian dikomposkan jadi mikroba,” ujarnya menambahkan.
“Sistem ini membuat pertanian organik lebih tahan menghadapi krisis. Jadi meski ada krisis apa pun aman,” ujarnya optimis.
Kata Slamet menjelaskan membangun pertanian organik membutuhkan proses panjang mulai dari pelatihan, pendampingan hingga uji coba lapangan. Namun hasil panennya kini telah memiliki pasar tetap.
“Tentu perlu latihan, pendampingan, uji coba, dan saat panen sudah ada pasar. Kami 18 tahun sampai sekarang survive,” katanya.
Slamet menyebut penguatan sistem pertanian organik Brenjonk juga mendapat dukungan pendampingan dari Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur sejak 2018 selama lima tahun. Sistem pertanian organik yang diterapkan telah mengacu pada standar nasional Indonesia (SNI) dan SOP pertanian organik resmi.
“Sistem pertanian organik adalah SNI, ada SOP dari pertanian. Ketika sudah lisensi maka beras tidak kenal HET,” katanya.
Brenjonk juga terus melakukan inovasi produk untuk meningkatkan nilai jual. Contoh inovasi yang dilakukan adalahmencamput atau mix beras hitam, merah hingga cokelat. Hal itu dilakukan untuk tingkatkan value-nya supaya mendapatkan harga kompetitif dan bisa tembus pasar ekspor,” katanya.
Adapun pemasaran sayur organik di Brenjonk adalah langsung tanpa perantara ke konsumen akhir dan kemitraan dengan pelaku usaha. (Imy)









