Tak Hanya Listrik, Ekonom Beberkan Manfaat Nuklir untuk Ekonomi Indonesia

Redaksi IDC | Wednesday, 04 February 2026 | 07:28
forum ekonomi

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Ekonom Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, mendukung arah kebijakan pemerintah dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) agar segera direalisasikan. Menurut dia, energi nuklir memiliki keunggulan sebagai sumber energi bersih dengan efisiensi tinggi dalam jangka panjang, sehingga layak menjadi bagian dari strategi ketahanan energi nasional.

“Dari perspektif energi bersih dan energi murah, nuklir jelas masuk kategori itu. Risiko memang ada, terutama terkait gempa. Namun berdasarkan riset yang saya ikuti, teknologi nuklir saat ini sudah masuk generasi keempat, yang dirancang tahan terhadap guncangan dan jauh lebih aman dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, secara ekonomi dan teknologi, nuklir sangat layak dipertimbangkan,” ujar Purwadi.

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi bertajuk “Swasembada Energi di Era Prabowo: Sekadar Wacana atau Sudah Terencana” yang digelar di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (03/02/2026).

Purwadi menjelaskan, pengembangan energi nuklir sebagai pembangkit listrik sejatinya bukan hal baru. Sejak pemerintahan sebelumnya, energi nuklir telah masuk dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), meski dengan porsi yang masih sangat kecil, yakni di bawah 5 persen.

Padahal, kata dia, energi nuklir memiliki manfaat turunan yang luas dan bernilai ekonomi tinggi, tidak hanya terbatas pada penyediaan listrik.

“Di Universitas Mulawarman sendiri, ada konsep kedokteran nuklir yang luar biasa, misalnya untuk penanganan penyakit jantung tanpa operasi. Di sektor pangan, teknologi nuklir bisa digunakan untuk pengawetan makanan hingga satu tahun tanpa rusak. Di sektor pertanian, produktivitas juga bisa meningkat, dari panen dua kali setahun menjadi enam kali setahun,” ungkapnya.

Pandangan serupa disampaikan pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi. Ia menilai nuklir merupakan energi masa depan yang relevan bagi Indonesia, terutama sebagai negara dengan jumlah penduduk besar dan kebutuhan energi yang terus meningkat.

“Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, nuklir relatif lebih murah dibandingkan energi fosil dalam jangka panjang,” ujarnya.

Andi menambahkan, Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan energi nuklir, baik dari sisi sumber daya manusia maupun ketersediaan bahan baku. Ia juga menilai kekhawatiran publik terhadap dampak negatif nuklir perlu disikapi secara proporsional, seiring perkembangan teknologi yang semakin maju.

“Dari sisi sumber daya manusia, kita sangat kompeten. Kita juga memiliki cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima merupakan force majeure akibat bencana alam yang luar biasa. Justru dari peristiwa itu, teknologi nuklir terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan,” tegasnya.

Sementara itu, pakar kebijakan publik Universitas Mulawarman, Saipul, mengingatkan agar pengembangan PLTN dilakukan secara hati-hati dan proporsional. Menurut dia, meski Kalimantan memiliki potensi besar sebagai wilayah pengembangan energi, nuklir tidak boleh dijadikan solusi tunggal atau dipaksakan secara nasional.

“Kalau nuklir ingin digunakan, persiapannya harus sangat matang, baik dari sisi infrastruktur maupun sumber daya manusia. Dampak negatifnya akan besar jika terjadi kesalahan,” katanya.

Meski demikian, Saipul menilai energi nuklir tetap menjadi keniscayaan dan penting sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi nasional. Ia menekankan bahwa kebijakan energi harus disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah.

“Energi nuklir itu bisa kita simpan, bisa kita tabung. Menjadi tabungan untuk generasi berikutnya. Ketika batu bara habis dan migas menurun, nuklir menjadi alternatif. Karena itu, kita harus mulai dari sekarang agar seluruh persiapannya matang,” pungkasnya. (Imy)