Harga Rumah Baru di Balikpapan Naik, Properti Komersial Turun

Redaksi IDC | Friday, 29 May 2026 | 17:51
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Bank Indonesia Balikpapan mencatat harga rumah baru di Kota Balikpapan terus mengalami kenaikan pada triwulan I 2026. Di sisi lain, harga properti komersial justru mengalami penurunan meski mulai melambat dibandingkan periode sebelumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) agregat pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 107,67 atau tumbuh 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy).

“Pertumbuhan harga rumah baru pada triwulan I 2026 lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,43 persen (yoy),” kata Robi Ariadi.

Menurutnya, kenaikan harga terjadi pada seluruh tipe rumah, baik rumah besar, kecil maupun menengah. Kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe besar yang tumbuh 2,93 persen (yoy).

“Rumah tipe besar menjadi jenis rumah dengan kenaikan harga paling tinggi. Selanjutnya rumah tipe kecil naik 1,85 persen dan tipe menengah naik 0,38 persen,” ujarnya.

Robi menjelaskan, kenaikan harga rumah baru dipengaruhi kebijakan pengembang yang melakukan penyesuaian harga jual untuk mengakomodasi kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.

“Sejumlah developer melakukan penyesuaian harga karena biaya bahan bangunan dan tenaga kerja meningkat,” jelasnya.

Meski harga rumah naik, volume penjualan rumah baru justru mengalami penurunan cukup dalam. Pada triwulan I 2026, jumlah rumah baru yang terjual hanya 72 unit atau turun 55,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 162 unit.

“Penurunan penjualan terjadi pada seluruh tipe rumah dan melanjutkan tren penurunan sejak tahun 2025,” kata Robi.

Ia menyebut penjualan rumah tipe kecil menjadi yang paling dalam penurunannya, dari 109 unit menjadi 36 unit atau turun 66,97 persen. Penjualan rumah tipe besar turun dari 32 unit menjadi 19 unit, sedangkan tipe menengah turun dari 21 unit menjadi 17 unit.

“Penjualan rumah tipe kecil masih mendominasi, namun pangsanya turun menjadi 50 persen dari sebelumnya 67 persen,” ujarnya.

Menurut Robi, ada beberapa faktor yang memengaruhi turunnya penjualan rumah baru. Salah satunya karena masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri.

“Konsumen cenderung memfokuskan pengeluarannya untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri sehingga pembelian rumah belum menjadi prioritas,” katanya.

Selain itu, kenaikan harga rumah juga membuat sebagian masyarakat menunda keputusan membeli rumah.

“Kenaikan harga rumah yang cukup signifikan menyebabkan sebagian konsumen memilih menunda pembelian hunian baru,” imbuhnya.

Di tengah penurunan penjualan, sebagian besar konsumen masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk membeli rumah baru. Pangsa penggunaan KPR pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 71 persen.

“Skema KPR masih menjadi instrumen utama masyarakat dalam membeli rumah baru,” ujar Robi.

Sementara itu, hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) Bank Indonesia Balikpapan mencatat harga properti komersial mengalami penurunan. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) triwulan I 2026 tercatat sebesar 105,70 atau turun 0,10 persen (yoy).

“Penurunan harga properti komersial masih terjadi, namun lebih melandai dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 0,36 persen,” katanya.

Robi menyebut membaiknya kinerja sektor hotel menjadi faktor utama yang menahan penurunan harga properti komersial lebih dalam.

“Kinerja hotel mulai membaik seiring meningkatnya aktivitas pekerja, operasionalisasi Kilang Pertamina Balikpapan, pembangunan tahap II IKN, serta kegiatan MICE dan kedinasan di Balikpapan,” jelasnya.

Ia menambahkan, segmen ritel dan perkantoran juga menunjukkan harga yang relatif stabil di tengah meningkatnya permintaan.

Ke depan, BI Balikpapan menilai prospek sektor properti di Balikpapan masih cukup baik, terutama didukung proyek hilirisasi industri dan pembangunan IKN.

“Prospek harga dan penjualan properti residensial maupun komersial di Balikpapan masih cukup prospektif ke depan,” kata Robi.

Ia menegaskan Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial guna mendorong pembiayaan sektor properti, termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan penyaluran kredit pada sektor prioritas termasuk perumahan, guna mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemulihan sektor properti secara berkelanjutan,” tutupnya. (Imy)