Balikpapan Catat Inflasi Ringan 0,03 Persen, PPU Alami Deflasi 0,48 Persen pada Oktober 2025

Redaksi IDC | Friday, 07 November 2025 | 13:25
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan - Robi Ariadi
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan - Robi Ariadi

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Kota Balikpapan mengalami inflasi sebesar 0,03 persen (mtm) pada Oktober 2025, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mencatat deflasi sebesar 0,48 persen (mtm). Data ini berdasarkan hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan.

Secara tahunan (yoy), inflasi Balikpapan mencapai 1,81 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,86 persen. Sementara inflasi tahun kalender (Januari–Oktober 2025) tercatat sebesar 1,37 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat inflasi Balikpapan masih berada dalam sasaran inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5±1 persen.

“Inflasi di Balikpapan utamanya disumbang oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,26 persen. Beberapa komoditas yang mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, air kemasan, semangka, kangkung, dan jeruk,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.

Kata Robi menjelaskan, naiknya harga emas perhiasan sejalan dengan tren kenaikan harga emas dunia dan meningkatnya permintaan. Sementara kenaikan harga air kemasan dipengaruhi oleh peningkatan biaya distribusi akibat antrian panjang pembelian BBM solar untuk kendaraan operasional.

“Kenaikan harga beberapa komoditas hortikultura seperti semangka dan kangkung juga terjadi karena curah hujan tinggi yang menurunkan produksi dan pasokan dari daerah pemasok, termasuk Jawa dan Kalimantan,” ujarnya.

Di sisi lain, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru menjadi penyumbang deflasi terbesar dengan andil 0,16 persen. Penurunan harga bawang merah, ikan layang, angkutan udara, kacang panjang, dan baju muslim anak menjadi faktor utama. Menurut Robi, melimpahnya pasokan bawang merah dan komoditas sayur lainnya akibat panen di daerah sentra produksi turut menekan harga di pasar.

“Turunnya tarif angkutan udara juga menjadi faktor pendorong deflasi, sejalan dengan berkurangnya permintaan pada periode low season,” kata Robi.

Lebih lanjut Robi berujar, diperiode yang sama, Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat deflasi 0,48 persen (mtm). Inflasi tahun kalender di wilayah ini mencapai 1,52 persen, sedangkan inflasi tahunan sebesar 2,47 persen — masih di bawah rata-rata nasional, namun lebih tinggi dari rata-rata empat kota di Kalimantan Timur yang sebesar 1,94 persen.

Deflasi di PPU terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,68 persen. Penurunan harga ikan tongkol, ikan layang, tomat, cabai rawit, dan bawang merah menjadi penyumbang utama deflasi. Kondisi ini didorong oleh meningkatnya hasil tangkapan nelayan dan panen raya di sentra produksi seperti Sulawesi dan Jawa.

“Inflasi PPU dipicu oleh kenaikan harga pada beberapa komoditas, antara lain nasi dengan lauk, emas perhiasan, daging ayam ras, serta dua jenis rokok yaitu sigaret kretek mesin dan sigaret kretek tangan,” ujarnya menyebutkan.

“Lonjakan harga nasi dengan lauk erat kaitannya dengan naiknya harga bahan baku lauk pauk, sementara kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi peningkatan biaya pakan dan bibit. Untuk rokok, kenaikan tarif cukai hasil tembakau dan harga jual eceran di awal tahun masih memberikan dampak berkelanjutan,” kata Robi menambahkan.

Robi berujar, ke depan sejumlah faktor masih berpotensi memengaruhi tekanan inflasi, terutama masuknya puncak musim hujan di akhir tahun yang dapat mengganggu pasokan hasil pertanian. Selain itu, meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga perlu diantisipasi agar tidak memicu lonjakan harga.

“Optimisme konsumen di Balikpapan menunjukkan tren positif. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober 2025 berada di level 119,3, meningkat dari 118,3 pada bulan sebelumnya. Ini menandakan persepsi masyarakat terhadap ketersediaan lapangan kerja dan penghasilan membaik,” ujarnya antusias.

Kuatnya daya beli masyarakat juga tercermin dari transaksi digital melalui QRIS yang pada September 2025 tumbuh signifikan 150,31 persen (yoy) di Balikpapan dan 160,34 persen di PPU.

Untuk menjaga stabilitas harga ke depan, Bank Indonesia Balikpapan bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat koordinasi melalui pemantauan harga, sidak pasar, kerja sama antar daerah, serta pelaksanaan operasi pasar dan gelar pangan murah secara berkala.

“Sinergi antara BI, pemerintah daerah, dan TPID terus diperkuat dalam menjaga inflasi daerah agar tetap terkendali di kisaran target nasional, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan,” kata Robi (*/ Imy).