
MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Kalangan akademisi di Kalimantan Timur (Kaltim) menilai proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan memiliki peran strategis sebagai fondasi awal menuju swasembada energi nasional. Selain memperkuat ketahanan energi, proyek ini juga dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi berlipat bagi masyarakat lokal serta menjaga stabilitas fiskal negara.
“RDMP Balikpapan menjadi langkah penting dalam memperkuat sektor hilir minyak dan gas, khususnya dalam pengolahan bahan bakar minyak (BBM),” ujar Pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan Andi Jumardi dalam bincang media gelaran Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (FWEB) Kaltim di Balikpapan pada Selasa (03/ 02/ 2026). Adapun bincang media tersebut bertajuk Swasembada di Era Prabowo: Sekadar Wacana atau Sudah Terencana di Balikpapan.
Andi mengatakan proyek senilai Rp.123 triliun yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026 tersebut telah menjadi kilang terbesar di Indonesia dengan kapasitas 360.000 barel per hari. Hal tersebut dipandang sangat mungkin bisa membantu memenuhi kebutuhan nasional. RDMP Balikpapan berfungsi mengolah hasil produksi sektor hulu menjadi BBM siap pakai.
“Kehadiran fasilitas ini dinilai dapat meningkatkan produksi BBM dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor,” ujar Andi.
Meski demikian, Andi mengakui konsumsi BBM nasional hingga kini masih melampaui kapasitas kilang dalam negeri. Ia menyebutkan konsumsi BBM dalam negeri sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara kapasitas kilang nasional baru sekitar 1,1 juta barel per hari. Namun, kata Andi, peningkatan dari RDMP ini tetap sangat strategis sebagai langkah awal menuju swasembada energi.
Selain dari sisi energi, Andi juga menyoroti dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pembangunan RDMP Balikpapan. Menurutnya, keberadaan kilang tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan efek berantai bagi perekonomian daerah.
“Tenaga kerja bertambah, daya beli masyarakat sekitar meningkat, dan ini menciptakan multiplier effect bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo. Ia menilai RDMP Balikpapan berperan penting dalam menjaga stabilitas fiskal nasional, terutama melalui penurunan impor BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan.
“Impor BBM dibayar dengan dolar. Kalau impor bisa ditekan, tekanan terhadap APBN dan nilai tukar rupiah juga ikut berkurang,” kata Purwadi.
Purwadi mengatakan ketergantungan terhadap impor energi berisiko menimbulkan tekanan ekonomi jangka panjang. Ia berujar pengalaman krisis 1998 harus menjadi pelajaran.
“Saat nilai tukar melonjak, beban utang ikut membengkak,” ujarnya menekankan.
Purwadi berharap pemerintah tidak berhenti pada RDMP Balikpapan semata. Menurut dia, pembangunan kilang serupa di berbagai daerah perlu dilakukan jika swasembada energi yang tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto ingin benar-benar terwujud.
“RDMP Balikpapan ini belum cukup. Kalau ingin serius menekan impor, harus ada lebih banyak kilang. Yang terpenting, daerah jangan hanya jadi penonton. Penyerapan tenaga kerja lokal dan manfaat ekonomi daerah harus diatur jelas melalui kebijakan pemerintah daerah,” tegasnya.
Sementara itu, pakar kebijakan publik Universitas Mulawarman Saipul, menilai RDMP Balikpapan merupakan jembatan awal menuju swasembada energi nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa pembangunan kilang masih berada dalam kerangka kebijakan nasional, sehingga tidak otomatis memberikan keistimewaan bagi daerah.
“Daerah penghasil sumber daya alam harus mendapat perlakuan khusus. Eksploitasi minyak dan batubara meninggalkan dampak lingkungan jangka panjang. Maka wajar jika daerah penghasil memperoleh kompensasi dan manfaat yang lebih besar,” ujar Saipul. (Imy)









