Perempuan KPB dorong keselamatan kerja lewat WPSI di Hari Kartini

Redaksi IDC | Thursday, 23 April 2026 | 11:50
kpb

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Di tengah aktivitas proyek kilang yang padat, pesan keselamatan justru datang dari suara paling dekat: keluarga. Momentum Hari Kartini dimanfaatkan PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) untuk memperkuat budaya keselamatan kerja melalui Woman Positive Safety Intervention (WPSI) dengan melibatkan peran aktif pekerja perempuan.

Pendekatan WPSI dibuat lebih personal dan humanis. Pekerja perempuan KPB turun langsung ke lapangan, berdialog dengan para pekerja, dan menanamkan kesadaran bahwa setiap tindakan kerja memiliki konsekuensi, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi keluarga di rumah.

Kehadiran keluarga di area kerja menjadi pengingat kuat bagi para pekerja. Mereka melihat langsung lingkungan kerja dan menyampaikan pesan sederhana namun bermakna.

“Hati-hati kerjanya ya, selalu pakai alat pelindung diri, supaya bisa pulang dengan selamat,” ujar Mei, anggota keluarga pekerja.

Pengalaman berbeda juga dirasakan para pekerja di lapangan. Emmanuel, pekerja Kontraktor Precommissioning, mengatakan momen tersebut memberi dorongan emosional yang kuat.

“Di hari spesial ini saya mendapat kejutan kehadiran istri yang membawa energi positif. Itu mewakili pesan dari keluarga kami semua agar selalu menjaga diri dan rekan kerja,” kata Emmanuel.

Ia menambahkan, “Ketika keluarga datang langsung, rasanya lebih tersentuh. Kita jadi lebih ingat bahwa ada yang menunggu di rumah.”

Saat ini, pekerja perempuan di lingkungan KPB berjumlah 212 orang atau sekitar 12,47 persen dari total pekerja. Di industri minyak dan gas yang masih didominasi laki-laki, angka ini menunjukkan kontribusi nyata perempuan dalam berbagai fungsi, termasuk dalam membangun budaya keselamatan yang lebih inklusif.

Vice President Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, menilai semangat Kartini selaras dengan upaya penguatan budaya keselamatan kerja yang mengedepankan kepedulian.

“Kepedulian untuk saling mengingatkan adalah inti dari keselamatan kerja,” ujar Asep. “Perempuan di KPB hadir membawa pendekatan yang lebih membumi dan menyentuh.”

Menurutnya, keselamatan kerja tidak hanya soal aturan dan prosedur, tetapi juga kesadaran bersama.

“Budaya keselamatan itu hidup ketika semua orang merasa saling menjaga,” katanya. “Bukan hanya patuh, tapi juga peduli dan berani mengingatkan.”

Ia menegaskan tujuan utama dari seluruh upaya tersebut sederhana namun penting.

“Yang ingin kita pastikan adalah setiap pekerja berangkat dan kembali ke rumah dengan selamat setiap hari,” tutup Asep. (Imy)