Harga Properti di Balikpapan Melandai, Penjualan Masih Terbatas pada Triwulan IV 2025

Redaksi IDC | Friday, 03 April 2026 | 16:50
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com
Dok, Imay/ mediaonlineidc.com

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia Balikpapan menunjukkan harga properti residensial primer (rumah baru) di Balikpapan pada triwulan IV 2026 mengalami perlambatan secara tahunan.

Dok, Imay/ mediaonlineidc.com

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan bahwa Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar 106,52 atau tumbuh 0,43% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III 2025 yang sebesar 0,67% (yoy).

“Perlambatan ini terutama dipengaruhi oleh melambatnya kenaikan harga jual pada seluruh tipe rumah, baik tipe besar, menengah, maupun kecil,” ujar Robi.

Secara rinci, Robi menjelaskan harga rumah tipe besar tumbuh 1,27% (yoy), tipe menengah 0,07% (yoy), dan tipe kecil 0,14% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Ia berujar terbatasnya kenaikan harga tersebut dipengaruhi oleh permintaan masyarakat yang belum sepenuhnya kuat. Hal ini sejalan dengan sejumlah proyek strategis nasional di wilayah Balikpapan dan sekitarnya—seperti RDMP dan pembangunan IKN tahap 1—yang mulai memasuki tahap penyelesaian, sementara realisasi IKN tahap 2 masih terbatas sehingga memengaruhi mobilitas pekerja.

“Meski demikian, developer tetap optimistis dengan memfokuskan penjualan pada rumah tipe kecil dan menengah yang lebih terjangkau serta diminati konsumen, disertai inovasi desain dan penguatan promosi,” kata Robi optimis.

Dari sisi penjualan, ujar Robi, volume rumah baru pada triwulan IV 2025 tercatat 119 unit atau turun 42,79% (yoy), meskipun tidak sedalam penurunan pada triwulan sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh masih lemahnya penjualan rumah tipe kecil, sementara tipe menengah dan besar menunjukkan perbaikan.

Berdasarkan data, secara triwulanan, penjualan rumah tipe kecil turun menjadi 68 unit, dan tipe menengah menjadi 24 unit. Sebaliknya, penjualan rumah tipe besar meningkat signifikan menjadi 27 unit.

“Dari sisi nilai, penjualan masih didominasi rumah tipe besar dengan pangsa 74%, diikuti tipe menengah 14% dan tipe kecil 12%. Hal ini mengindikasikan menguatnya preferensi konsumen pada segmen menengah atas,” ujarnya menyebutkan.

Lebih jauh Robi menjelaskan, dari sisi pembiayaan, mayoritas pembelian rumah masih mengandalkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa 78%, sementara pembelian tunai bertahap dan tunai penuh masing-masing sebesar 13% dan 9%.

Adapun penyaluran KPR di Balikpapan pada triwulan IV 2025 tercatat sebesar Rp4,97 triliun atau tumbuh 4,16% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Meski demikian, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 5%.

“Sejumlah tantangan masih dihadapi developer, antara lain kenaikan harga bahan bangun”an, kendala perizinan, lamanya proses administrasi KPR, keterbatasan lahan, serta faktor perpajakan,” kata Robi.

Sementara itu, hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKOM) menunjukkan harga properti komersial di Balikpapan mengalami penurunan. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) tercatat sebesar 105,86 atau turun 0,36% (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya.

Penurunan ini dipengaruhi oleh melemahnya hampir seluruh segmen, terutama hotel dan apartemen, akibat masih terbatasnya permintaan serta kebijakan efisiensi kegiatan pemerintah, termasuk kegiatan MICE.

Selain itu, penyelesaian proyek strategis nasional juga berdampak pada menurunnya mobilitas pekerja, sehingga memengaruhi permintaan apartemen dan ruang perkantoran.

Ke depan, prospek sektor properti di Balikpapan tetap dinilai positif, didukung oleh operasionalisasi industri hilirisasi dan berlanjutnya pembangunan IKN tahap 2.

Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan makroprudensial, termasuk melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), guna mendorong pembiayaan sektor properti dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. (Imy)