Inflasi Balikpapan dan PPU Naik Februari 2026, Dipicu Lonjakan Permintaan Ramadan

Redaksi IDC | Wednesday, 04 March 2026 | 14:25
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan - Robi Ariadi
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan - Robi Ariadi

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Februari 2026 meningkat dibandingkan Januari 2026. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan dan mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, serta faktor cuaca yang memengaruhi pasokan pangan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan Kota Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (mtm), sementara PPU sebesar 0,89 persen (mtm).

“Peningkatan inflasi Februari 2026 dipengaruhi oleh naiknya permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri, serta tingginya curah hujan yang berdampak pada produksi hortikultura,” ujar Robi.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 4,14 persen (yoy) dan PPU sebesar 4,13 persen (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur yang sebesar 4,64 persen (yoy) maupun nasional sebesar 4,76 persen (yoy). Namun demikian, realisasi tersebut masih berada di atas sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Robi menjelaskan tingginya inflasi tahunan juga dipengaruhi faktor basis perbandingan atau base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik 50 persen pada Januari–Februari 2025.

“Dampak kebijakan diskon tarif listrik tahun lalu menyebabkan base effect pada inflasi tahunan Februari 2026. Ke depan, efek tersebut akan berangsur berakhir,” katanya.

Di Balikpapan, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,27 persen (mtm). Komoditas yang memberikan tekanan terbesar antara lain angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga, dan kangkung.

“Kenaikan tarif angkutan udara dipicu peningkatan mobilitas masyarakat. Sementara harga cabai rawit naik karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi menurun akibat curah hujan tinggi,” jelas Robi.

Harga emas perhiasan juga meningkat seiring tren kenaikan harga emas dunia, sedangkan bahan bakar rumah tangga terdorong keterbatasan pasokan LPG di tengah permintaan yang meningkat.

Di sisi lain, deflasi di Balikpapan terutama berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil minus 0,04 persen (mtm). Komoditas yang menahan laju inflasi antara lain bensin, bawang merah, daging ayam ras, sawi hijau, dan baju muslim anak.

“Penurunan harga bensin merupakan implementasi penyesuaian harga Pertamax yang turun Rp550 per liter sejak 1 Februari 2026,” ujarnya.

Sementara itu di PPU, inflasi terbesar juga bersumber dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil 0,68 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi adalah ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis.

“Kenaikan harga ikan layang disebabkan terbatasnya pasokan akibat cuaca yang kurang kondusif sehingga nelayan lebih sedikit melaut,” kata Robi.

Adapun deflasi di PPU terutama berasal dari kelompok transportasi dengan andil minus 0,05 persen (mtm), dipicu penurunan harga bawang merah, ikan tongkol, bensin, cumi-cumi, dan bayam.

Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko inflasi, antara lain puncak musim hujan pada triwulan I 2026, potensi gelombang laut tinggi, serta risiko banjir di daerah sentra produksi.

“Kondisi ini berisiko mengganggu pasokan komoditas hortikultura dan perikanan. Di sisi lain, permintaan yang meningkat selama Ramadan dan Idul Fitri juga berpotensi mendorong kenaikan harga jika tidak diimbangi pasokan yang memadai,” ujarnya.

Robi menambahkan, optimisme konsumen di Balikpapan tetap terjaga. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 tercatat 131,8, meningkat dari 122,7 pada Januari 2026.

“Level IKK di atas 100 menunjukkan konsumen tetap optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan ke depan,” katanya.

Bank Indonesia Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Balikpapan, PPU, dan Paser akan memperkuat pengendalian inflasi melalui operasi pasar, monitoring harga, perluasan kerja sama antar daerah, serta komunikasi efektif kepada masyarakat.

“Kami akan terus bersinergi menjaga inflasi daerah tetap berada dalam sasaran nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen,” tutup Robi. (Imy)