MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Optimisme konsumen di Balikpapan terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga sepanjang triwulan III 2026. Di tengah penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi dan sejumlah dinamika ekonomi yang dirasakan masyarakat, konsumen masih memiliki keyakinan positif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan semakin optimistis terhadap prospeknya dalam enam bulan ke depan.

Kondisi tersebut tercermin dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia Balikpapan, dengan rerata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada triwulan III 2026 sebesar 122,6. Angka tersebut memang sedikit menurun dibandingkan rerata IKK pada triwulan II 2026 yang sebesar 123,7, namun masih berada jauh di atas level 100 yang menunjukkan optimisme konsumen.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan tetap terjaganya IKK menunjukkan masyarakat masih memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi meskipun menghadapi sejumlah penyesuaian dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
“Kalau kita lihat secara keseluruhan, keyakinan konsumen di Balikpapan masih terjaga. Memang ada sedikit penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, tetapi indeksnya masih berada pada level optimis. Artinya, masyarakat masih melihat kondisi ekonomi secara positif dan memiliki keyakinan bahwa aktivitas ekonomi tetap berjalan,” ujar Robi.
Menurut Robi, hal yang menjadi perhatian dalam hasil survei triwulan III adalah ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan yang justru semakin menguat.
“Yang cukup positif adalah ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan mengalami peningkatan. Jadi, masyarakat tidak hanya melihat kondisi hari ini, tetapi juga masih memiliki harapan yang cukup kuat terhadap perkembangan ekonomi ke depan,” katanya.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada triwulan III 2026 berada pada level optimis di seluruh kategori pengeluaran. Rerata IKK tertinggi tercatat pada responden dengan kelompok pengeluaran Rp7–8 juta sebesar 136,9. Selanjutnya, kelompok pengeluaran Rp1–2 juta mencatat rerata IKK sebesar 130,6, sementara kelompok pengeluaran Rp6–7 juta sebesar 127,9.
Robi mengatakan kondisi tersebut menunjukkan optimisme konsumen tersebar pada berbagai kelompok pengeluaran.
“Seluruh kelompok pengeluaran masih mencatat indeks di atas 100. Ini menunjukkan bahwa optimisme tidak hanya terjadi pada satu kelompok masyarakat, tetapi relatif terjaga di berbagai kelompok pengeluaran,” ujarnya.
Menurutnya, perbedaan tingkat indeks antarkelompok pengeluaran juga menjadi gambaran mengenai bagaimana masyarakat memandang kondisi ekonomi dari perspektif masing-masing.
“Setiap kelompok tentu memiliki pola konsumsi dan kebutuhan yang berbeda. Namun, ketika seluruh kelompok masih berada pada level optimis, ini menunjukkan adanya persepsi yang cukup positif terhadap kondisi ekonomi secara umum,” jelas Robi.
Berdasarkan kelompok usia, optimisme konsumen juga tercatat pada seluruh kelompok usia. IKK tertinggi tercatat pada responden kelompok usia 20–30 tahun dengan rerata nilai indeks sebesar 129,24, kemudian kelompok usia 30–40 tahun dengan rerata nilai indeks sebesar 124,04.
“Kelompok usia 20 sampai 30 tahun mencatat indeks yang paling tinggi. Ini merupakan kelompok usia produktif yang umumnya cukup dekat dengan aktivitas ekonomi, baik sebagai pekerja, pelaku usaha, maupun konsumen. Keyakinan mereka terhadap kondisi ekonomi menjadi salah satu gambaran mengenai persepsi masyarakat usia produktif terhadap perkembangan ekonomi di Balikpapan,” kata Robi.
Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tercermin dari Indeks Keyakinan Ekonomi (IKE). Sepanjang triwulan III 2026, rerata IKE tercatat sebesar 112,3, sedikit lebih rendah dibandingkan rerata triwulan II 2026 sebesar 115,2.
Robi menjelaskan, meskipun mengalami penurunan, IKE masih berada pada level optimis. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memandang kondisi ekonomi saat ini secara positif.
“IKE masih berada di atas 100, sehingga persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini tetap optimis. Memang dibandingkan triwulan sebelumnya ada sedikit penurunan, tetapi belum mengubah persepsi secara keseluruhan. Masyarakat masih melihat kondisi ekonomi saat ini cukup baik,” ujarnya.
IKE tersebut ditopang oleh tiga komponen, yakni indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama atau durable goods. Ketiganya masing-masing mencatat rerata sebesar 125,3; 107,7; dan 104 sepanjang triwulan III 2026.
“Ketiga komponen IKE masih berada pada level optimis. Indeks penghasilan saat ini sebesar 125,3, ketersediaan lapangan kerja 107,7, dan pembelian barang tahan lama 104. Jadi, walaupun ada dinamika pada masing-masing komponen, secara umum konsumen masih memiliki persepsi yang positif,” kata Robi.
Namun, Robi mengakui terdapat sejumlah faktor yang menahan penguatan persepsi konsumen terhadap penghasilan saat ini.
“Untuk penghasilan saat ini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Kita melihat adanya pengurangan jam kerja atau lembur pada sebagian masyarakat, kemudian omzet penjualan yang masih tertahan pada beberapa jenis usaha, serta dampak efisiensi. Kondisi-kondisi tersebut tentu memengaruhi persepsi masyarakat terhadap penghasilan yang mereka terima saat ini,” jelasnya.
Di sisi lain, indeks ketersediaan lapangan kerja dan indeks pembelian barang tahan lama tercatat menguat dibandingkan triwulan sebelumnya. Robi melihat perkembangan aktivitas usaha di Balikpapan menjadi salah satu faktor yang mendukung persepsi positif masyarakat terhadap lapangan kerja.
“Kita melihat aktivitas usaha di Balikpapan masih terus berkembang. Bertambahnya gerai ritel modern, franchise, coffee shop, restoran, dan berbagai jenis usaha lainnya menunjukkan adanya aktivitas ekonomi yang terus berjalan. Perkembangan ini tentunya juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja dan memberikan peluang bagi masyarakat,” ujar Robi.
Ia mengatakan perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat konsumen tetap optimistis terhadap ketersediaan lapangan kerja.
“Ketika ada usaha baru yang beroperasi, tentu ada kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas ekonomi pendukung. Karena itu, bertambahnya unit usaha menjadi salah satu sinyal positif yang ditangkap oleh masyarakat dalam melihat peluang pekerjaan,” tambahnya.
Optimisme juga terlihat dari komponen pembelian barang tahan lama yang mencatat indeks 104. Menurut Robi, masyarakat masih melakukan pembelian pada sejumlah barang tahan lama, seperti emas dan perhiasan, kendaraan bermotor, peralatan elektronik, maupun perabot rumah tangga.
“Pembelian barang tahan lama masih berada pada level optimis. Kita melihat masyarakat masih melakukan pembelian emas dan perhiasan, kendaraan bermotor, serta melakukan pembaruan alat elektronik dan perabot rumah tangga. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga masih memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi,” katanya.
Sementara itu, harapan masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan semakin menguat. Hal tersebut tercermin dari rerata Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sepanjang triwulan III 2026 yang mencapai 132,9, meningkat dibandingkan rerata triwulan II 2026 sebesar 132,1.
“IEK meningkat dari 132,1 menjadi 132,9. Ini menunjukkan bahwa konsumen semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan. Jadi, meskipun ada tantangan yang dirasakan pada kondisi saat ini, masyarakat masih melihat prospek yang positif ke depan,” jelas Robi.
Penguatan IEK tersebut ditopang oleh tiga komponen, yaitu indeks ekspektasi kegiatan usaha, indeks ekspektasi penghasilan, dan indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja. Ketiganya mencatat rerata masing-masing sebesar 121,3; 140,7; dan 136,7.
“Ekspektasi penghasilan menjadi salah satu komponen dengan indeks yang cukup tinggi, yaitu 140,7. Ini menunjukkan masyarakat masih memiliki harapan bahwa kondisi penghasilan mereka ke depan dapat membaik. Ekspektasi terhadap lapangan kerja juga cukup kuat dengan indeks 136,7,” ujar Robi.
Menurut Robi, meningkatnya ekspektasi konsumen tidak terlepas dari perkembangan aktivitas ekonomi dan pembangunan yang terus berlangsung di Balikpapan.
“Kalau kita melihat Balikpapan saat ini, masih ada berbagai aktivitas pembangunan yang berjalan. Ada pembangunan ruko komersial, hotel, pusat perbelanjaan, perumahan, dan juga bertambahnya industri hilirisasi. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang membentuk persepsi positif masyarakat terhadap prospek ekonomi ke depan,” katanya.
Robi menilai berlanjutnya pembangunan dan bertambahnya aktivitas usaha dapat memberikan dampak lanjutan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat.
“Ketika pembangunan terus berjalan, tentu ada aktivitas ekonomi yang mengikutinya. Ada kebutuhan tenaga kerja, kebutuhan barang dan jasa, serta kegiatan usaha yang menjadi bagian dari rantai ekonomi tersebut. Hal ini yang kemudian ikut membentuk ekspektasi masyarakat bahwa aktivitas ekonomi ke depan masih akan terus bergerak,” jelasnya.
Meski demikian, Robi mengatakan optimisme konsumen perlu terus dijaga agar dapat menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi Balikpapan.
“Optimisme konsumen ini perlu kita jaga bersama. Konsumsi masyarakat merupakan salah satu bagian penting dalam aktivitas ekonomi. Karena itu, ketika masyarakat memiliki keyakinan yang baik terhadap kondisi ekonomi dan prospek ke depan, tentu hal tersebut menjadi modal positif bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan keyakinan konsumen sebagai salah satu indikator dalam melihat dinamika perekonomian daerah.
“Survei Konsumen memberikan gambaran mengenai bagaimana masyarakat melihat kondisi ekonomi saat ini dan bagaimana ekspektasi mereka terhadap enam bulan ke depan. Bagi kami, informasi ini penting untuk melihat dinamika ekonomi dari sisi konsumen dan menjadi bagian dari pemantauan perkembangan ekonomi di daerah,” pungkas Robi. (Imy)









