UMKM Binaan Bank Indonesia Balikpapan Raih Apresiasi Tokoh Nasional dan Catat Penjualan Lebih dari Rp80 Juta

Redaksi IDC | Saturday, 29 August 2026 | 13:13
bi 31

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– Bank Indonesia secara konsisten menyelenggarakan Karya Kreatif Indonesia (KKI) sebagai bagian dari komitmen dalam mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pada tahun 2026, KKI mengangkat semangat “Beudaya Meusare Sare” dari Aceh yang bermakna “Berdaya, Bersama-Sama”. KKI 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendorong kebangkitan UMKM di wilayah Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak bencana alam.

KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Rangkaian kegiatan dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Selvi Gibran Rakabuming. Turut hadir dalam pembukaan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Putri, serta Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Doddy Zulverdi.

Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, KKI 2026 menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat daya saing UMKM, memperluas akses pembiayaan, mempercepat digitalisasi, serta membuka akses pasar yang lebih luas. Dalam penyelenggaraannya, Bank Indonesia bersinergi dengan 27 Kementerian/Lembaga dan 34 mitra strategis. Kegiatan tersebut turut didukung dan dihadiri oleh duta besar negara sahabat, perwakilan Kementerian/Lembaga, asosiasi, perbankan, serta pelaku usaha.

“Penguatan UMKM ke depan diwujudkan melalui tiga kata kunci, yaitu Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing. Bangkit merupakan semangat pemulihan UMKM yang menghadapi tantangan ekonomi maupun bencana alam. Tangguh diwujudkan melalui penguatan struktur usaha dan akses pembiayaan berkelanjutan. Berdaya Saing diwujudkan melalui inovasi produk dan perluasan akses pasar domestik maupun ekspor,” ujar Destry Damayanti saat membuka rangkaian KKI 2026.

UMKM Binaan BI Balikpapan Tampil di Panggung Nasional

Dalam rangkaian KKI 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan turut menghadirkan lima UMKM mitra/binaan untuk menampilkan produk unggulannya. Tiga UMKM bergerak pada kategori wastra dan ready to wear, yaitu Batik Sekar Buen, Batik Poyung, dan Batik Zahro. Sementara itu, Salakilo dan Kampoeng Timur berpartisipasi pada kategori makanan dan minuman olahan.

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari strategi KPwBI Balikpapan dalam memperluas eksposur sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk UMKM mitra, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan bahwa keikutsertaan UMKM binaan pada KKI 2026 merupakan bagian dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari penguatan kapasitas, peningkatan kualitas produk, pengembangan desain, hingga perluasan akses pasar.

“Bagi kami, keikutsertaan UMKM binaan Bank Indonesia Balikpapan dalam KKI bukan sekadar menghadirkan produk pada sebuah pameran. Yang lebih penting adalah bagaimana proses pembinaan yang dilakukan dapat menghasilkan UMKM yang semakin siap, semakin percaya diri, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Robi.

Menurutnya, kualitas produk menjadi salah satu faktor penting yang harus terus diperkuat agar UMKM tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga memiliki kapasitas untuk menembus pasar nasional bahkan global.

“Kami ingin UMKM di wilayah kerja Bank Indonesia Balikpapan tidak berhenti pada tahap menghasilkan produk. Mereka harus mampu memahami apa yang dibutuhkan pasar, bagaimana membangun desain dan identitas produk, menghitung struktur biaya dengan baik, menjaga kualitas, serta membangun kemampuan untuk memenuhi permintaan pasar secara berkelanjutan,” jelas Robi.

Pada hari pertama penyelenggaraan KKI 2026, booth wastra dan ready to wear KPwBI Balikpapan mendapat perhatian dan apresiasi dari sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh nasional yang hadir dan melihat secara langsung produk-produk UMKM yang ditampilkan. Di antaranya Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Timur Hj. Syarifah Suraidah Rudy Mas’ud atau yang akrab disapa Bunda Harum, Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa, Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Agus D.W. Martowardojo, serta sejumlah tokoh nasional lainnya.

“Kami tentu sangat mengapresiasi perhatian dari para tokoh nasional yang berkunjung dan melihat langsung produk UMKM binaan Bank Indonesia Balikpapan. Ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, budaya, dan kekayaan lokal Kalimantan Timur kepada pasar yang lebih luas,” kata Robi.

Ia menambahkan, perhatian tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi UMKM untuk terus meningkatkan kualitas dan inovasi produk.

“Apresiasi yang diterima di KKI menjadi penyemangat bagi UMKM bahwa produk lokal memiliki potensi untuk tampil di panggung nasional. Namun, apresiasi tersebut harus kita jadikan motivasi untuk terus melakukan perbaikan, karena tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga konsistensi kualitas dan mengonversi exposure menjadi transaksi serta pasar yang berkelanjutan,” tambahnya.

Mengangkat Identitas dan Kekayaan Budaya Kalimantan Timur

Salah satu kategori yang mendapat perhatian adalah wastra dan ready to wear khas Kalimantan Timur. Batik Poyung dan Batik Zahro yang berasal dari Kota Balikpapan menghadirkan produk batik dengan desain kontemporer yang tetap berakar pada kekayaan alam dan budaya Kalimantan. Sementara itu, Batik Sekar Buen dari Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membawa cerita kekayaan alam dan budaya Borneo melalui berbagai motif khas, seperti enggang, rusa sambar, dan anggrek hitam.

Batik Poyung menghadirkan busana siap pakai, kain batik, scarf, dan tas kerajinan dengan batik tulis bertema ampiek yang dibuat secara handmade. Batik Zahro menghadirkan wastra, ready to wear, dan aksesori fesyen dengan inovasi pemanfaatan pewarna alami yang berasal dari limbah kayu bangkirai. Sementara itu, Batik Sekar Buen mengangkat kekayaan alam dan budaya Kalimantan melalui eksplorasi motif khas Borneo.

Robi menilai, kekuatan identitas lokal menjadi salah satu keunggulan yang perlu terus dikembangkan oleh UMKM.

“Produk lokal tidak harus kehilangan identitas ketika ingin masuk ke pasar yang lebih luas. Justru kekayaan budaya dan cerita di balik produk tersebut dapat menjadi nilai tambah. Tantangannya adalah bagaimana identitas lokal itu diterjemahkan menjadi desain yang relevan dengan kebutuhan dan selera konsumen saat ini,” ungkap Robi.

“Karena itu, kami mendorong UMKM untuk terus berinovasi. Motif, desain, material, pewarnaan, kemasan, hingga storytelling harus terus dikembangkan agar produk lokal memiliki karakter yang kuat sekaligus tetap marketable,” lanjutnya.

Keberhasilan ketiga UMKM wastra tersebut mengikuti KKI 2026 setelah melalui proses kurasi yang ketat tidak terlepas dari proses penguatan kapasitas yang telah dilakukan KPwBI Balikpapan secara berkelanjutan.

Pada 2025, KPwBI Balikpapan memfasilitasi workshop studi tiru ke Solo, Jawa Tengah, yang melibatkan 15 UMKM wastra dan ready to wear, termasuk UMKM peserta KKI. Workshop tersebut difokuskan pada pengembangan inovasi desain dan motif, pemanfaatan pewarna alam, metode penghitungan biaya dan Harga Pokok Produksi (HPP), pengembangan desain ready to wear kekinian, serta penguatan aspek pasar.

Penguatan kapasitas kemudian dilanjutkan melalui workshop yang diselenggarakan KPwBI Balikpapan pada awal 2026, khususnya dalam pengembangan desain dan motif wastra serta ready to wear.

“Pembinaan UMKM memang tidak bisa dilakukan secara instan. Kami mulai dari penguatan kapasitas, kemudian mendorong inovasi produk, mempertemukan UMKM dengan berbagai pihak, dan selanjutnya membuka akses pasar. Proses ini perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” tutur Robi.

Menurutnya, peningkatan kualitas produk harus berjalan seiring dengan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

“Kami ingin UMKM tidak hanya berpikir bagaimana membuat produk yang bagus, tetapi juga bagaimana produk tersebut diterima pasar. Artinya, orientasi terhadap demand harus semakin kuat tanpa menghilangkan identitas dan karakter produk lokal,” tambahnya.

Catat Penjualan Lebih dari Rp80 Juta

Keikutsertaan tiga UMKM binaan KPwBI Balikpapan pada kategori wastra dan ready to wear dalam KKI 2026 membuahkan capaian positif. Selain memperoleh apresiasi dari pengunjung, ketiga UMKM tersebut berhasil mencatat total penjualan lebih dari Rp80 juta selama empat hari penyelenggaraan KKI 2026.

Robi menilai capaian tersebut menjadi indikator positif bahwa produk UMKM binaan KPwBI Balikpapan semakin mampu diterima oleh pasar nasional.

“Penjualan lebih dari Rp80 juta selama empat hari tentu merupakan capaian yang menggembirakan. Ini menunjukkan bahwa produk UMKM kita memiliki daya tarik dan mampu mendapatkan respons positif dari konsumen di tingkat nasional,” ujar Robi.

“Namun, kami melihat angka penjualan ini bukan sebagai tujuan akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum KKI ini dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk memperoleh pelanggan baru, membangun jejaring bisnis, mendapatkan repeat order, dan memperluas pasar setelah kegiatan selesai,” lanjutnya.

Capaian tersebut mencerminkan tingginya apresiasi pasar terhadap kualitas dan keunikan produk UMKM mitra. Inovasi desain dan kreasi motif yang mengangkat kekayaan serta identitas budaya Balikpapan dan Penajam Paser Utara terbukti memiliki daya tarik bagi konsumen dari berbagai daerah.

Hasil tersebut sekaligus menunjukkan perkembangan kualitas dan daya saing UMKM di wilayah kerja KPwBI Balikpapan. Penguatan kapasitas yang dilakukan secara berkelanjutan mendorong UMKM untuk tidak hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga semakin memahami kebutuhan dan selera pasar sehingga mampu memperluas akses pasar dan meningkatkan skala usahanya.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa ketika kualitas produk, inovasi, identitas lokal, dan pemahaman pasar berjalan bersama, UMKM kita memiliki peluang yang besar untuk naik kelas. Ke depan, kami akan terus mendorong agar capaian ini tidak berhenti pada satu event, tetapi menjadi bagian dari perjalanan UMKM menuju pasar yang lebih luas,” tegas Robi.

Membuka Peluang Pasar Ekspor

Tidak hanya pada kategori wastra dan ready to wear, UMKM sektor makanan dan minuman (mamin) mitra KPwBI Balikpapan juga memperoleh kesempatan mengikuti penjajakan business matching secara luring dengan enam calon buyer dari Australia, China, Taiwan, Afrika, Amerika Serikat, dan Singapura.

Fasilitasi business matching tersebut diharapkan dapat membuka peluang transaksi dan kerja sama bisnis sekaligus memperluas akses pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan UMKM binaan Bank Indonesia Balikpapan dalam memenuhi kebutuhan, preferensi, dan standar pasar yang lebih luas.

“Business matching menjadi salah satu bagian penting dalam proses membawa UMKM naik kelas. Kita ingin UMKM tidak hanya siap secara produk, tetapi juga siap bertemu buyer, memahami kebutuhan pasar, serta mampu memenuhi standar dan kapasitas produksi yang dibutuhkan,” jelas Robi.

“Enam calon buyer dari berbagai negara yang dijajaki oleh UMKM mamin kita merupakan peluang yang sangat baik. Tentu masih diperlukan proses lanjutan untuk memastikan terjadinya transaksi, tetapi yang paling penting adalah UMKM mendapatkan pengalaman langsung berhadapan dengan calon buyer internasional dan memahami ekspektasi pasar global,” tambahnya.

Menurut Robi, perluasan akses pasar harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas produksi dan tata kelola usaha.

“Kalau pasar semakin luas, kapasitas UMKM juga harus semakin siap. Jangan sampai permintaan meningkat tetapi UMKM tidak mampu memenuhi volume, kualitas, maupun kontinuitas pasokan. Karena itu, pembinaan kami arahkan secara menyeluruh, tidak hanya pada produk, tetapi juga pada aspek manajemen dan kesiapan usaha,” katanya.

Dengan demikian, keikutsertaan pada KKI 2026 tidak hanya menjadi sarana promosi produk, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong UMKM lokal di wilayah kerja KPwBI Balikpapan agar terus meningkatkan kualitas produk, memahami kebutuhan pasar, memperkuat jejaring usaha, serta meningkatkan daya saing dan skala usaha.

KKI 2026 Hadirkan 44 Rangkaian Kegiatan

Secara keseluruhan, KKI 2026 menghadirkan 44 rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara daring dan luring. Berbagai kegiatan tersebut meliputi talkshow ekonomi dan keuangan inklusif dan berkelanjutan, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan, ekspor dan value chain, showcase UMKM unggulan, area Cangkir Nusantara, showcase pariwisata, serta berbagai kegiatan aktivasi, ruang interaksi, dan instalasi hijau.

KKI 2026 juga menampilkan beragam produk UMKM hasil kurasi, mulai dari wastra, ready to wear, aksesori, home decor, kopi, makanan dan minuman olahan, hingga atraksi desa wisata.

Bagi KPwBI Balikpapan, momentum KKI 2026 menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk membawa UMKM di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, dan wilayah penyangga IKN agar semakin kompetitif.

“Kami akan terus mendorong UMKM di wilayah kerja Bank Indonesia Balikpapan untuk naik kelas. Caranya bukan hanya dengan memberikan pelatihan, tetapi memastikan setiap program pembinaan memiliki kesinambungan, mulai dari peningkatan kapasitas, inovasi produk, digitalisasi, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar,” ujar Robi.

“Kami berharap semakin banyak produk UMKM dari Balikpapan dan wilayah sekitarnya yang dapat tampil di tingkat nasional dan internasional. KKI menunjukkan bahwa produk daerah memiliki peluang yang sangat besar apabila kualitas dan kapasitasnya terus diperkuat,” lanjutnya.

Robi juga mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam mendukung perkembangan UMKM melalui penggunaan dan pembelian produk lokal.

“Kami mengajak masyarakat untuk bangga menggunakan produk UMKM Indonesia. Setiap pembelian produk UMKM bukan hanya mendukung pelaku usahanya, tetapi juga ikut menjaga keberlanjutan usaha, membuka lapangan kerja, dan memperkuat perekonomian daerah,” tutup Robi.

Meskipun rangkaian pameran secara langsung di Hall A dan B JICC, Jakarta, telah berakhir, masyarakat masih dapat berbelanja dan memberikan dukungan secara daring melalui situs KKI di www.karyakreatifindonesia.co.id yang masih membuka akses penjualan produk UMKM peserta KKI 2026.

Bersama, mari dukung UMKM Indonesia untuk terus bangkit, tangguh, berdaya saing, dan menjadi kebanggaan bangsa. (Imy)