Rabu, 7 Oktober 2026

Pertamina Perkuat Kesiapsiagaan Warga Baru Ilir Hadapi Kebakaran

Redaksi IDC | Tuesday, 06 October 2026 | 23:50
WhatsApp Image 2026-10-06 at 14.03.38

MEDIAONLINEIDC.COM; BALIKPAPAN– PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit Balikpapan bersama kelompok mitra binaan Kampung Tangguh Bencana (KATANA) Kelurahan Baru Ilir melaksanakan simulasi evakuasi kebakaran untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi kebakaran di kawasan permukiman padat.

Kegiatan yang dilaksanakan di RT 49, RT 50, RT 51, RT 52, dan RT 54 Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, tersebut melibatkan masyarakat secara langsung dalam berbagai skenario kondisi darurat. Simulasi turut didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan, Kecamatan Balikpapan Barat, Kelurahan Baru Ilir, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta tim internal HSSE RU Balikpapan.

Dalam simulasi tersebut, warga berlatih mengenali kondisi darurat, menyampaikan informasi kejadian, melakukan evakuasi menuju titik aman, serta membantu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Warga juga dilatih membangun koordinasi dengan unsur penanggulangan bencana agar respons terhadap kondisi darurat dapat dilakukan secara cepat dan terarah.

“Simulasi seperti ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk merasakan langsung bagaimana menghadapi kondisi darurat. Jadi bukan hanya mengetahui teorinya, tetapi juga memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi kebakaran,” ujar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang.

Dodi mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam membangun ketangguhan menghadapi risiko bencana, terutama di kawasan permukiman yang memiliki potensi risiko kebakaran.

“Penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, terutama masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian. Warga perlu mengetahui langkah awal yang harus dilakukan, bagaimana menyampaikan informasi, serta ke mana harus melakukan evakuasi,” jelas Dodi.

“Melalui latihan ini, kami berharap setiap warga memahami perannya masing-masing. Ketika terjadi kondisi darurat, masyarakat tidak hanya mampu menyelamatkan diri, tetapi juga dapat membantu keluarga, tetangga, dan kelompok rentan di sekitarnya,” lanjutnya.

Menurut Dodi, kegiatan tersebut merupakan bagian dari penguatan Program KALIANDRA (Kampung Baru Ilir Mandiri, Indah, dan Sejahtera), khususnya dalam membangun kapasitas dan kesiapan masyarakat menghadapi risiko bencana.

“KALIANDRA tidak hanya berbicara mengenai lingkungan yang lebih baik, tetapi juga bagaimana masyarakat memiliki kapasitas untuk menghadapi berbagai risiko di lingkungan tempat tinggalnya. Kesiapsiagaan menjadi bagian penting dari ketangguhan masyarakat,” ungkap Dodi.

Selain meningkatkan kemampuan warga, simulasi juga menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi antarunsur di tingkat lingkungan. Kolaborasi antara masyarakat, KATANA, pemerintah kelurahan dan kecamatan, BPBD, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta Pertamina diharapkan dapat mendukung respons awal yang lebih terarah apabila terjadi kebakaran.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Balikpapan, Bambang, mengatakan latihan kebencanaan perlu dilakukan secara berkala agar masyarakat semakin memahami prosedur keselamatan.

“Yang paling penting dalam menghadapi kebakaran adalah masyarakat tidak panik. Warga harus tahu apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dihubungi, dan ke mana harus menyelamatkan diri,” kata Bambang.

“Dalam simulasi ini, warga belajar mulai dari menerima informasi kejadian, menyampaikan laporan, melakukan evakuasi, sampai membantu anak-anak, lansia, dan warga lain yang membutuhkan pertolongan,” lanjutnya.

Bambang menilai latihan secara langsung dapat membantu masyarakat mengingat prosedur keselamatan dengan lebih baik.

“Kalau hanya disampaikan melalui sosialisasi, belum tentu semua orang langsung memahami. Dengan simulasi, warga bisa mempraktikkan sendiri sehingga ketika menghadapi kondisi sebenarnya, mereka sudah memiliki gambaran mengenai langkah yang harus dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua KATANA Kelurahan Baru Ilir, Sugianto, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada warga dalam menghadapi kondisi darurat.

“Selama ini masyarakat mengetahui bahwa kebakaran merupakan salah satu risiko yang bisa terjadi di lingkungan permukiman. Namun, ketika kejadian benar-benar terjadi, situasinya tentu berbeda. Karena itu, latihan seperti ini penting agar warga tidak bingung dan tidak panik,” ungkap Sugianto.

“Melalui simulasi ini, warga belajar bagaimana melakukan evakuasi, membantu tetangga, mengutamakan kelompok rentan, dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Kami berharap pengetahuan tersebut bisa diterapkan jika suatu saat terjadi keadaan darurat,” tambahnya.

Sugianto juga berharap kesiapsiagaan tidak berhenti setelah kegiatan simulasi selesai.

“Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi kebiasaan. Masyarakat harus terus diingatkan mengenai jalur evakuasi, titik aman, cara menyampaikan informasi, dan bagaimana saling membantu ketika terjadi keadaan darurat,” tuturnya.

Menurutnya, keterlibatan seluruh anggota masyarakat, termasuk ibu-ibu, memiliki peran penting dalam membangun kesiapsiagaan di tingkat keluarga.

“Ibu-ibu juga punya peran yang sangat penting karena banyak yang berada di rumah dan paling dekat dengan anggota keluarga. Mereka perlu mengetahui bagaimana mengamankan anak-anak dan anggota keluarga lainnya ketika terjadi kondisi darurat,” jelas Sugianto.

Pelaksanaan simulasi ini merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Unit Balikpapan melalui penguatan kapasitas masyarakat berbasis komunitas. Keberadaan KATANA diharapkan dapat memperkuat peran warga dalam mitigasi, kesiapsiagaan, serta respons awal terhadap potensi bencana di lingkungan permukiman.

Dodi menambahkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun secara berkelanjutan melalui latihan dan kolaborasi.

“Bencana tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Karena itu, yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan masyarakat agar lebih siap ketika menghadapi risiko tersebut,” katanya.

“Kami berharap latihan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh warga harus terus dipraktikkan dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari,” tambah Dodi.

Kegiatan tersebut juga sejalan dengan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya pada aspek sosial melalui peningkatan kapasitas dan ketangguhan masyarakat serta penguatan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan dalam pengurangan risiko bencana.

Inisiatif ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi multipihak.

“Ketangguhan masyarakat dibangun melalui kerja sama. Ketika masyarakat, pemerintah, aparat, dan dunia usaha dapat berkoordinasi dengan baik, respons terhadap kondisi darurat akan menjadi lebih terarah,” pungkas Dodi.

“Harapan kami, masyarakat Kelurahan Baru Ilir semakin siap mengenali risiko, mengetahui langkah evakuasi, menjaga komunikasi, dan saling membantu. Dengan begitu, kesiapsiagaan bukan hanya menjadi pengetahuan, tetapi benar-benar menjadi budaya di tengah masyarakat,” tutupnya. (Imy)