MEDIAONLINEIDC.COM; BERAU– Keterbatasan kualitas jaringan telekomunikasi di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, menjadi perhatian Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi Darien Aldiano, mengatakan pemerintah saat ini tengah menyusun roadmap atau peta jalan pembangunan infrastruktur telekomunikasi nasional yang mengatur pembagian peran antara pemerintah dan penyelenggara layanan telekomunikasi.
“Komdigi sedang menyusun roadmap bagaimana mengelaborasikan pembangunan yang dilakukan provider dan yang dilakukan pemerintah. Jadi ada pembagian peran yang lebih jelas agar pembangunan infrastruktur telekomunikasi bisa berjalan lebih efektif,” kata Darien kepada wartawan saat melihat langsung dampak konektivitas Digital di Pulau Maratua pada Kamis (11/ 06/ 2026).
Dalam kunjungan ke wilayah 3T (Tertinggal, terdepan dan Terluar) tersebut, Darien mengatakan BAKTI selama ini difokuskan untuk melayani wilayah-wilayah yang belum memiliki nilai keekonomian bagi operator. Sementara daerah yang memiliki potensi bisnis diharapkan dapat menjadi ruang investasi bagi provider atau operator seluler.
Kata Darien menjelaskan pembangunan infrastruktur telekomunikasi di Pulau Maratua tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Keterlibatan operator seluler menjadi faktor penting mengingat wilayah tersebut memiliki potensi ekonomi yang terus berkembang. Skema kolaborasi yang tengah disusun Komdigi ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi berbagai daerah yang mengalami persoalan serupa, termasuk Pulau Maratua.
“Untuk BAKTI, kami fokus pada daerah yang memang tidak bisa masuk secara komersial. Kalau suatu wilayah sudah masuk lingkup komersial atau bisnis, seharusnya itu menjadi ruang bagi operator seluler untuk membangun layanan,” kata Darien menekankan.
“Kehadiran pemerintah melalui BAKTI bertujuan memastikan seluruh masyarakat tetap mendapatkan akses komunikasi sebagai layanan dasar yang menjadi kebutuhan penting saat ini,” ujarnya lagi.
Kata Darien menjelaskan BAKTI hadir sebagai komitmen dari pemerintah dalam menghadirkan akses telekomunikasi dan internet merata hingga kewilayah terpencil dan tertinggal di Indonesia. Hal itu melihat dari kebutuhan komunikasi saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Darien berujar, pemerintah memastikan pemerintah tidak berhenti pada penyediaan layanan dasar semata. Upaya peningkatan kualitas jaringan tetap menjadi perhatian utama.
“Karena itu pemerintah hadir agar masyarakat tetap bisa memperoleh akses komunikasi meskipun wilayahnya belum menarik secara bisnis. Kami selalu berencana meningkatkan kualitas konektivitas yang sudah ada sehingga masyarakat bisa mendapatkan layanan yang lebih baik,” katanya.
Darien melihat Pulau Maratua memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan ekonomi. Potensi itu dinilai dapat menjadi daya tarik bagi operator seluler untuk memperluas investasi jaringan. Namun disisilain persoalan utama yang menyebabkan kualitas jaringan di Maratua belum optimal.
Darien mengungkapkan Pulau Maratua belum tersambung infrastruktur fiber optik. Padahal kunci utama peningkatan kualitas jaringan adalah masuknya fiber optik.
Berdasarkan data yang dimiliki Komdigi, kata Darien, jaringan kabel optik saat ini masih berhenti di wilayah Tanjung Batu dan belum menjangkau Pulau Maratua.
“Kami sudah cek di sistem Komdigi. Memang belum ada kabel optik ke Maratua. Terakhir yang saya lihat masih mentok di Tanjung Batu,” jelasnya.
Ia mengakui pembangunan kabel bawah laut menuju kawasan kepulauan memiliki tantangan besar dari sisi biaya maupun risiko operasional. Ia berujar membangun kabel butuh investasi besar dan memerlukan waktu panjang serta memiliki banyak risiko.
“Bisa putus karena jangkar kapal dan berbagai faktor lainnya,” katanya.
Sebagai solusi yang lebih memungkinkan untuk jangka menengah, adalah teknologi microwave yang dinilai dapat menjadi alternatif untuk memperkuat konektivitas di wilayah kepulauan. Kata Darien, pendekatan tersebut dapat menjadi jalan tengah sambil menunggu pembangunan infrastruktur fiber optik yang membutuhkan investasi besar.
Salah satu solusi secara teknikal adalah menggunakan microwave. Kata Darien menara-menara yang ada di sekitar Pulau Maratua dan pulau terdekat disekitar saling terhubung dengan jarak puluhan kilometer sehingga koneksi dari satu pulau bisa diteruskan ke pulau lainnya. Microwave bisa menjadi solusi yang cukup efektif untuk menghadirkan kapasitas yang lebih baik dibanding kondisi saat ini. Ini salah satu opsi yang sedang kami lihat.
“Tujuannya program BAKTI Komdigi di wilayah 3T termasuk Pulau Maratua ini adalah bagaimana masyarakat mendapatkan layanan komunikasi yang semakin baik. Ketika konektivitas meningkat, sektor pariwisata berkembang, aktivitas ekonomi tumbuh, dan manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya optimis. (Imy)
